egipt

Pesan Putus Asa Seorang Ibu untuk Putrinya yang Tewas di Mesir


image

KAIRO, KOMPAS.COM – “Di sini sangat dingin dan saya menggigil”! Itulah pesan terakhir Habiba Ahmed Abd Elaziz, reporter surat kabar mingguan Xpress yang berbasis Uni Emirat Arab kepada ibunya dari Kairo pada Rabu (14/8) pagi. Habiba merupakan salah satu dari sedikitnya 280 orang tewas, berdasarkan laporan terakhir, dalam bentrokan antara massa pendukung Presiden Mesir, Muhammad Mursi, yang terguling dengan pasukan keamanan kemarin. Habiba dan ibunya, Sabreen Mangoud, bertukar pesan teks bernada kecemasan pada Rabu pagi ketika pasukan keamanan Mesir bergerak maju dan memblokir jalan-jalan yang mengarah ke perkemahan para pengunjuk rasa di Kairo. Sang ibu, yang di tinggal di Sharjah, sebuah emirat di Uni Emirat Arab, kemudian menyebar pertukaran pesan teks mereka dalam posting -annya di Facebook yang kemudian dikutip harian The National.
Pukul 06.19
Ibu : Habiba, apa yang terjadi di sana? Saya pergi tidur pukul 01.30, itu berarti pukul 11.30 di tempatmu. Apa yang terjadi dengan serangan itu? Ceritakan padaku.
Habiba: Tentara dan polisi memang bergerak di sekitar gerbang. Media center berubah menjadi sebuah rumah sakit lapangan dan alun-alun dalam siaga tinggi.
Ibu : Kamu di mana?
Habiba: Hanya wartawan yang diizinkan tetap berada di dalam gedung. Saya harus meliput monumen itu kalau pertempuran dimulai.
Ibu : Monumen itu agak jauh dari Rabia.
Habiba: Pasukan keamanan ada di setiap gerbang sekarang. Saya di media center. Itu sama sekali tidak jauh, dan pintu besar dan dapat ditembus dengan mudah.
Ibu : Apakah ada banyak pasukan polisi dan
tentara?
Habiba: Ya, tapi gerakan mereka juga bisa hanya taktik “perang urat saraf”.
Ibu : Bagaimana kamu akan pergi kemonumen?
Habiba: Saya akan berjalan seperti orang-orang lain, atau lari. Itu tergantung situasi.
Ibu : Tuhan tolong kami.”
Pukul 07:33
Ibu : Apa ada yang baru?
Habiba: Para wartawan asing baru saja ke (pergi) pusat.
Ibu : Maksud saya apa yang baru dengan orang banyak itu? Bagaimana kabarmu?
Habiba: Saya meminum tiga jenis obat. Di sini sangat dingin dan saya menggigil.   Massa luar biasa banyak waspada tinggi. Doakanlah kami, ibu.
Ibu : Tuhan, semoga kami teguh dan beri kami kekuatan. Saya menyerahkan kamu kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Habiba: Saya sedang menuju ke platform dalam beberapa saat. Ada tank di sana.
Itulah pesan terakhirnya. Habibi, 26 tahun, tewas ketika pasukan keamanan menyerbu perkemahan Rabaa al Adawiya yang penuh dengan pendukung
Muhamad Mursi.

Tidak jelas siapa yang menembakkan peluru dalam bentrokan antara kedua belah pihak itu. CNN memastikan keaslian pesan teks yang dramatis itu setelah CNN mengonfirmasinya ke adik Elaziz, Arwa Ramadhan. Habiba berada di Mesir, negara asalnya dalam kapasitas pribadi pribadi, setelah merayakan libur lebaran. Dia sedang membantu orang-orang yang terluka di perkemahan itu, kata Ramadhan.
Elaziz bergabung dengan Xpress sebagai karyawan magang pada September 2011 dankemudian mengambil posisi karyawan penuh, lapor The Gulf News yang berbasis di Dubai. “Sulit untuk percaya bahwa dia telah meninggal,” kata Wakil Editor Xpress, Mazha Farooqui. “Dia sangat menyukai pekerjaannya dan memiliki karir yangmenjanjikan.”
Tanpa mengetahui apa yang telah terjadi, sang ibu, yang tinggal di Sharjah, mengirim pesan doa kepada putrinya dan menulis pesan dukungan bagi para pengunjuk rasa di Mesir.
Ibu : Tuhan beri kami keteguhan. Tuhan anugerahi kami kemenangan. Ini adalah apa yang saya tulis pada halaman saya: Tuhan, saya mempercayakan kepada-Mu semua saudara-saudaraku, putra dan putriku di Rabia dan Al Nahda, dan semua orang yang melakukan protes di seluruh Mesir. Tuhan saya mempercayakan kepada-Mu suami saya dan anak saya Ahmed Habiba. Semoga kami tidak berduka atas salah satu dari mereka. Tuhan berdayakan mereka dan dukung mereka dan jaga mereka tetap teguh pada momen pertemuan hari ini.
Pukul 12:46
Ibu : Habiba, tolong tentramkan hati saya. Saya telah menelpon ribuan kali. Tolong, sayang, saya khawatir. Ceritakan bagaimana kabar kamu.
Sang ibu menelepon ke telepon Elaziz sekitar tengah hari itu. Seseorang akhirnya mengangkat telepon itu dan mengatakan bahwa wartawan muda muda tersebut telah tewas. Sang ibu yang berduka dijadwalkan tiba di Mesir
pada Rabu malam.